Berikut adalah penjelasan rinci dan terstruktur mengenai isi dan makna dari sambutan Bapak Abdul Mukti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, terkait Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025:
📘 Gambaran Umum
Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 adalah bagian penting dari transformasi pendidikan nasional. Namun, peraturan ini bukan merupakan kurikulum baru, melainkan sebuah penyesuaian dan penguatan dari kebijakan kurikulum yang telah berlaku, yakni Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Tujuan utamanya adalah peningkatan kualitas pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).
🔍 Tiga Penegasan Utama dari Menteri
1. Permendikdasmen 13/2025 Bukan Kurikulum Baru
-
Banyak pihak keliru memahami Permen ini sebagai kurikulum baru hanya karena membaca judulnya.
-
Fenomena ini disebut sebagai “scroll culture” – budaya membaca sekilas tanpa mendalami isi.
-
Penegasan ini penting untuk menghindari kesalahpahaman: permen ini memperkuat, bukan mengganti kurikulum yang ada.
2. Permen Ini Satu Kesatuan dengan Tiga Peraturan Lain
Permendikdasmen 13/2025 merupakan bagian dari empat peraturan yang saling terkait, yaitu:
| No | Peraturan Terkait | Fokus Bahasan |
|---|---|---|
| 1 | Permen Standar Kompetensi Lulusan (SKL) | Tujuan akhir pembelajaran siswa |
| 2 | Permen Standar Isi | Struktur dan materi pembelajaran |
| 3 | Permen Pembelajaran Coding & AI | Respons terhadap tantangan digital |
| 4 | Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 | Implementasi pembelajaran mendalam |
Semua permen ini saling terintegrasi dan mendukung pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna.
3. Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Konsep Inti Permen 13/2025
✦ Ciri-ciri Utama:
-
Less but More: Materi tidak banyak, tapi digali mendalam dan aplikatif.
-
Integratif: Satu topik bisa menyentuh lintas mata pelajaran dan tema.
-
Fleksibel: Bisa digunakan baik dalam pendekatan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka.
🧠 Tiga Pilar Utama Pembelajaran Mendalam
🧩 1. Mindful Learning
-
Memastikan semua murid mendapat perhatian dan apresiasi yang sama.
-
Mendorong:
-
Refleksi dan berpikir tingkat tinggi (meta-kognitif),
-
Nalar kritis,
-
Pemecahan masalah.
-
-
Terhubung dengan hidden curriculum:
-
Nilai-nilai dan sikap yang dibentuk melalui pengalaman belajar,
-
Diperoleh lewat interaksi sosial, kegiatan pramuka, bakat/minat, dll.
-
-
Konsep ini juga erat dengan experiential learning.
"Mindful learning adalah pembelajaran yang apresiatif dan partisipatif."
🔎 2. Meaningful Learning
-
Pembelajaran yang bermakna bagi siswa.
-
Terhubung langsung dengan kehidupan nyata siswa dan memiliki manfaat jangka panjang.
-
Membangun landasan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kehidupan mereka.
😀 3. Joyful Learning
-
Pembelajaran yang menyenangkan, penuh semangat, dan membangkitkan motivasi internal.
-
Bukan berarti lucu, tapi membuat siswa bersemangat untuk belajar.
-
Memunculkan "grit", semangat gigih yang lebih tinggi dari sekadar motivasi sesaat.
🌐 Ekosistem Pendidikan yang Dikuatkan
Menteri menekankan pentingnya “Catur Pusat Pendidikan”:
-
Sekolah – sebagai tempat pembelajaran formal,
-
Keluarga – sebagai lingkungan pendidikan pertama,
-
Masyarakat – tempat siswa belajar dari kehidupan sosial,
-
Media – sebagai sumber belajar digital dan informasi.
“Belajar tidak hanya di kelas, tapi juga di masyarakat dan dunia digital.”
🛠️ Implementasi dan Tantangan
-
Diperlukan perubahan mindset dalam seluruh ekosistem pendidikan.
-
Tidak bisa instan, melainkan proses jangka panjang (longitudinal).
-
Menjadi solusi akademik untuk tantangan mutu pendidikan saat ini.
-
Pemahaman menyeluruh atas Permen ini sangat penting agar pelaksanaan tidak keliru.
🎯 Penutup dan Harapan
“Permen ini adalah penguatan, bukan pengganti kurikulum. Mari kita pahami, terapkan, dan wujudkan pembelajaran yang reflektif, bermakna, menyenangkan, dan memberdayakan semua siswa.”
Post a Comment (0)