Beberapa Perlu Diperhatikan Dalam Pelaksanaan Ujian Sekolah

 
Kemampuan Guru dalam Menentukan Soal HOTS, MOTS, dan LOTS

Berdasarkan hasil pemantauan, kemampuan guru dalam menyusun soal yang mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), menengah (MOTS), dan rendah (LOTS) masih belum merata. Sebagian guru masih dominan menyusun soal pada level LOTS, sehingga perlu peningkatan pemahaman dan pendampingan terkait analisis KD, penyusunan indikator soal, serta pengembangan instrumen evaluasi yang selaras dengan tuntutan Kurikulum dan capaian pembelajaran.

Perhatian terhadap Jadwal Ujian dan Ketidaksesuaian Hari Belajar
Penjadwalan ujian menunjukkan adanya ketidaksesuaian, khususnya pengaturan mata pelajaran dari hari Senin sampai Rabu yang hanya memuat satu mata pelajaran, sedangkan Kamis sampai Sabtu memuat dua mata pelajaran. Kondisi ini menimbulkan kendala di sekolah yang hanya melaksanakan kegiatan belajar sampai hari Jumat, sehingga keberadaan hari Sabtu menjadi permasalahan di lapangan dan memerlukan kebijakan yang lebih fleksibel dan kontekstual.

Jarak Waktu Ujian Sekolah dan Pengumuman Kelulusan
Pelaksanaan Ujian Sekolah dan waktu pengumuman kelulusan dinilai terlalu berdekatan, sehingga belum sepenuhnya mengakomodasi pelaksanaan ujian susulan bagi peserta didik yang berhalangan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan permasalahan administrasi dan psikologis bagi siswa, sehingga perlu perencanaan waktu yang lebih proporsional dan mempertimbangkan seluruh tahapan evaluasi secara menyeluruh.

Perencanaan Administrasi Ujian Sekolah
Hasil supervisi menunjukkan bahwa perencanaan Ujian Sekolah masih memiliki berbagai kekurangan dari sisi administrasi, seperti kelengkapan dokumen, jadwal, berita acara, dan perangkat pendukung lainnya. Hal ini mengindikasikan perlunya penguatan koordinasi, pembinaan, dan pendampingan kepada satuan pendidikan agar pelaksanaan Ujian Sekolah berjalan tertib, akuntabel, dan sesuai ketentuan.

Larangan Mengikuti Ujian karena Tunggakan Biaya Sekolah
Masih ditemukan praktik di beberapa sekolah yang melarang siswa mengikuti ujian karena tunggakan biaya sekolah. Kondisi ini berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan sosial apabila dilaporkan oleh orang tua atau pihak lain kepada media maupun LSM, sehingga dapat berdampak pada citra sekolah. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mengedepankan hak peserta didik serta pendekatan persuasif dan solutif dalam penyelesaian masalah administrasi keuangan.

Kesesuaian Soal dengan Waktu Pengerjaan Ujian
Soal Ujian Sekolah dan bobotnya masih perlu mendapat perhatian khusus, terutama dalam kaitannya dengan waktu yang dibutuhkan peserta didik untuk menyelesaikan ujian. Beberapa soal dinilai terlalu panjang atau kompleks dibandingkan alokasi waktu yang tersedia, sehingga perlu dilakukan telaah soal secara lebih cermat agar tingkat kesulitan, bobot, dan waktu pengerjaan berada pada proporsi yang seimbang.

Pakaian Warga Sekolah di Luar Ketentuan Seragam
Dalam pelaksanaan kegiatan sekolah, masih ditemukan guru atau warga sekolah yang tidak mengenakan seragam sesuai ketentuan, dan memilih menggunakan pakaian olahraga pada hari aktif pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan perlunya penegasan kembali aturan berpakaian agar tercipta budaya disiplin, keteladanan, serta suasana sekolah yang mencerminkan profesionalisme pendidik.

Kepadatan Kegiatan SAS, TKA, dan Ujian Sekolah
Padatnya rangkaian kegiatan sekolah seperti SAS, TKA, dan Ujian Sekolah menjadi salah satu faktor penyebab munculnya beberapa kekurangan dalam penyusunan soal. Keterbatasan waktu persiapan berdampak pada kualitas soal, sehingga diperlukan penjadwalan yang lebih terencana dan pembagian tugas yang jelas agar setiap kegiatan evaluasi dapat dipersiapkan secara optimal.

Variasi Bentuk Soal Ujian
Beberapa sekolah masih menyusun soal Ujian Sekolah hanya dalam bentuk pilihan ganda, tanpa mengembangkan bentuk soal lain seperti uraian atau penugasan. Hal ini menyebabkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif peserta didik belum terukur secara komprehensif, sehingga diperlukan dorongan untuk menerapkan variasi bentuk soal sesuai karakteristik mata pelajaran.

Penggunaan Jas oleh Guru di Sekolah
Ditemukan pula beberapa guru yang mengenakan pakaian jas dalam aktivitas pembelajaran di sekolah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait kesesuaian dengan aturan berpakaian yang berlaku, sehingga perlu kejelasan kebijakan dari pihak sekolah atau dinas terkait agar penampilan guru tetap mencerminkan kerapian, keseragaman, dan identitas sebagai pendidik.

Belum Ditentukannya Persentase Soal HOTS, MOTS, dan LOTS
Hasil monitoring menunjukkan bahwa hingga saat ini belum terdapat ketentuan atau kesepakatan yang jelas mengenai persentase komposisi soal HOTS, MOTS, dan LOTS pada Ujian Sekolah. Kondisi ini menyebabkan penyusunan soal sangat bergantung pada pemahaman masing‑masing guru, sehingga komposisi tingkat kognitif soal belum seragam dan belum sepenuhnya mencerminkan tuntutan pengembangan kemampuan berpikir peserta didik sesuai standar evaluasi pembelajaran.

Beban Mengajar Guru yang Overload Mempengaruhi Komposisi Soal
Banyak guru yang mengajar dengan beban jam mengajar yang overload, sehingga berdampak pada keterbatasan waktu dan fokus dalam menyusun soal ujian secara optimal. Kondisi ini mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap keseimbangan dan komposisi soal berdasarkan level kognitif HOTS, MOTS, dan LOTS, serta minimnya proses telaah dan validasi soal sebelum digunakan dalam Ujian Sekolah.

Pelaksanaan Ujian dengan Beragam Model dan Permasalahan Aplikasi
Pelaksanaan ujian di berbagai sekolah menggunakan beragam model, baik berbasis digital, kertas, maupun melalui beberapa aplikasi ujian. Namun demikian, ditemukan permasalahan pada sebagian aplikasi yang digunakan, seperti aplikasi yang mengalami gangguan (ngedet) atau tidak dapat terbuka saat ujian berlangsung. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan ujian dan merugikan peserta didik, sehingga diperlukan seleksi yang lebih cermat terhadap aplikasi ujian yang digunakan, termasuk uji coba teknis dan kesiapan sarana prasarana sebelum pelaksanaan ujian.

Keterlambatan Pengiriman Instrumen Monitoring
Ditemukan bahwa pengiriman instrumen monitoring dari beberapa satuan pendidikan masih dilakukan secara lambat dan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Kondisi ini berdampak pada keterlambatan proses pemantauan, analisis, dan tindak lanjut hasil pengawasan, sehingga diperlukan peningkatan kedisiplinan dan komitmen sekolah dalam memenuhi kewajiban administrasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Ketidakterseragaman Model dan Komposisi Bentuk Soal Ujian
Hasil pengawasan menunjukkan belum adanya keseragaman model atau komposisi bentuk soal ujian antar sekolah, seperti penggunaan pilihan ganda, benar‑salah, dan bentuk lainnya yang bervariasi tanpa pedoman yang jelas. Ketidakterseragaman ini berpotensi menimbulkan perbedaan kualitas penilaian hasil belajar peserta didik, sehingga diperlukan acuan bersama agar bentuk dan komposisi soal lebih terstandar dan adil.

Implementasi Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 dalam Pelaksanaan Ujian
Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 menjadi perhatian penting bagi pengawas dan sekolah dalam pelaksanaan ujian, khususnya terkait prinsip penilaian, perencanaan, dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Berdasarkan hasil monitoring, masih diperlukan peningkatan pemahaman dan penyesuaian praktik di sekolah agar pelaksanaan ujian benar‑benar selaras dengan ketentuan peraturan tersebut.

Ketidaksesuaian Pelaksanaan Ujian dengan Surat Edaran (Praktik dan Teori)
Berdasarkan hasil pengawasan, masih banyak sekolah yang belum sepenuhnya memperhatikan surat edaran terkait pelaksanaan ujian yang mencakup ujian praktik dan teori. Sebagian sekolah hanya melaksanakan salah satu bentuk ujian, sehingga tujuan penilaian kompetensi peserta didik secara utuh belum tercapai. Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan pemahaman dan kepatuhan sekolah terhadap ketentuan yang telah ditetapkan.

Kurangnya Perhatian terhadap Dokumen Perencanaan Program Sekolah (Dokumen I)
Sekolah perlu memberikan perhatian lebih terhadap Dokumen I yang telah direncanakan dan disepakati bersama dalam perencanaan program sekolah. Hasil monitoring menunjukkan bahwa pelaksanaan ujian belum sepenuhnya mengacu pada perencanaan yang tertuang dalam dokumen tersebut, sehingga terjadi ketidaksinambungan antara perencanaan dan pelaksanaan program akademik di sekolah.

Belum Adanya Kesepakatan Bersama dalam Pengolahan Nilai
Dalam pengolahan nilai hasil ujian, ditemukan bahwa beberapa sekolah belum memiliki ketentuan atau kesepakatan bersama yang jelas dan terdokumentasi. Hal ini berpotensi menimbulkan perbedaan perlakuan, ketidakkonsistenan hasil penilaian, serta kurangnya transparansi dalam penentuan nilai akhir peserta didik, sehingga diperlukan pedoman bersama yang disepakati oleh seluruh pemangku kepentingan di sekolah.


0 Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan. Trimakasi

Lebih baru Lebih lama