ORNAMEN GORGA DI RUMAH ADAT BATAK TOBA

 Rumah adat Batak Toba merupakan salah satu peninggalan tradisi suku bangsa Batak yang sampai saat ini masih banyak meninggalkan nilai – nilai filosofi dan keindahan. Rumah adat Batak juga dianggap memiliki tondi (roh). Demikian pula ornamen yang melekat pada bangunan rumah adat tersebut yang sering disebut gorga, juga memiliki arti dan simbol sendiri. Demikianlah orang Batak ternyata memiliki rasa seni yang tinggi selain rumah sebagai tempat hunian juga merupakan sebagai warisan budaya yang diwariskan secara turun temurun .

Ornamen Gorga Batak adalah ukiran atau pahatan tradisional yang biasanya terdapat di dinding rumah bagian luar dan bagian depan dari rumah adat Batak Toba. Secara konseptual nenek moyang membuat Gorga ini dengan berbagai macam bentuk dari motif geometris, motif manusia, motif binatang, tumbuh-tumbuhan serta benda-benda alam.

Bangunan – bangunan tradisional baik rumah maupun sopo biasanya diberi ornamen atau ragam hias. Rumah adat yang berhias disebut Jabu Gorga atau Jabu Guru sedangkan yang tidak berhias disebut Jabu Batara Siang. Ornamen – ornamen tersebut pada dasarnya mengandung arti simbolik atau lambang berdasarkan sistem kepercayaan masyarakat. Motif ornamen gorga yang dimiliki terdiri dari geometris, makhluk raksasa, manusia, binatang, tumbuh – tumbuhan dan lainnya.

Berdasarkan warna, ornamen Batak Toba terbagi dua yaitu Gorga Silinggom dan Gorga Sipalang. Gorga Silinggong lebih banyak menggunakan warna hitam, sedangkan gorga sipalang lebih banyak menggunakan warna merah. Penggunaan warna dan ornamen pada rumah adat, menunjukkan status pemilik rumah. Gorga silinggom hanya dapat dipakai pada rumah raja adat.Dengan demikian peneliti mencoba mendeskripsikan dan membandingkan dengan teori yang ada penerapan ornamen pada rumah adat di tiga kampung yaitu, Huta Siallagan, Desa Tomok dan Huta Bolon di Kabupaten Samosir.


2. Landasan Teori

2.1. Pola Perkampungan Batak Toba

Pola perkampungan (bentuk) kampung atau huta pada umumnya mengelompok. Kelompok bangunan dalam suatu kampung umumnya dua baris, yaitu barisan Utara dan Selatan. Dari barisan Utara terdiri atas rumah adat atau jabu. Baris Selatan terdiri atas lumbung atau sopo yaitu tempat menyimpan padi.

Kedua bangunan barisan ini dipisahkan oleh pelataran yang lebar disebut halaman tempat anak – anak bermain, tempat acara suka dan duka dalam kampung dan tempat menjemur sesuatu. Di belakang rumah atau lumbung ada tempat kosong yang biasanya dijadikan kebun. Sekeliling kampung didinding/ dibentuk dengan tanah ditanami parik, sehingga bentuk persegi panjang. Di atasnya ditanami pohon – pohon bambu. Pintu gerbang sering disebut Bahal. Dimuka gerbang selalu ditanam pohon – pohon yang mereka anggap bertuah, yaitu : Hariara, Bintatar dan Beringin.

2.2. Rumah Adat Batak Toba

Rumah adat Batak Toba adalah rumah – rumah tradisional yang sistem pembuatannya berdasarkan tata krama yang telah ditentukan oleh adat Batak Toba. Pada awalnya satu rumah adat ditempati oleh beberapa keluarga, sehingga setiap ruangan mempunyai nama tersendiri sesuai yang menempatinya. Akan tetapi saat sekarang sudah tidak ditemukan lagi, kalau pun ada lebih dari satu keluarga adalah anak pemilik rumah sendiri yang sudah berkeluarga, sebelum berpisah dengan orang tuanya sementara tinggal dirumah orang tuanya.

2.2.1. Jenis – Jenis Rumah Adat Batak Toba

Masyarakat Batak Toba mengenal dua jenis rumah, yakini rumah Sitolumbea dan rumah Sisampuran atau Sibaba ni amporik. Perbedaan yang sangat mencolok dan jelas dari kedua bentuk rumah ini adalah tangga dan pintunya. Pada rumah Sitolumbea tangga dan pintunya berada didalam. Tangga terletak antara tiang depan dan tiang dalam, sedangkan pintunya terdapat pada lantai. Sementara rumah Sisampuran tangga dan pintunya berada pada bagian luar. Tangganya terdapat di muka tiang.

Mengapa disebut „Sitolumbea‟. „Bea‟ ada hubungannya dengan „bao‟ riampuna adat parsaoran yang berarti pantun atau hormat yang berada di depan dan melekat pada ambang pintu. Sedangkan pintunya berada pada dinding muka.Rumah batak Sitolumbea disebut rumah yang berjenis kelamin betina. Menurut wawancara yang dilakukan oleh penulis, rumah batak sitolumbea-lah rumah yang paling lengkap. Terdapat ada perbedaan lain, tetapi perbedaan itu tidak terlalu terlihat dari segi pandangan sepintas. Maka dalam pembahasan bagian-bagian rumah batak yang menjadi acuan kita adalah rumah batak sitolumbea.


2.2.2. Bagian – Bagian Rumah Adat Batak Toba


2.3. Ornamen Gorga Pada Rumah Adat Batak Toba

Rumah adalah tempat dan sumber berkah serta kesejahteraan bagi penghuninya. Karena itu rumah juga dianggap mempunyai “tondi” (roh). „Ai martondi do jabu jala marsahala‟( harus ber-rohnya rumah baru kelihatan hidup). Agar rumah tetap sanggup menjalankan fungsinya yang sedemikian, si pemilik rumah harus tetap memperhatikan kekuatan hidup rumah yang dihuninya.

Salah satu cara yang ditempuh untuk mempertahankan kekuatan rumah tadi, orang Batak Toba memberi hiasan pada rumah dan perabot rumah. Dengan demikian hiasan bukan hanya ornamentasi belaka, melainkan juga sarana pendukung daya hidup rumah (ungkapan keyakinan). Hiasan – hiasan yang akan kita lihat berfungsi untuk membuat „asa mangolu idaon‟ (agar tampak hidup). „Tampak hidup‟ bukan karena dekorasi yang indah dan cantik tetapi juga karena mempunyai kekuatan.

SELENGKAPNYA


0 Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan. Trimakasi

Lebih baru Lebih lama